Cute Rocking Baby Monkey

Selasa, 16 Februari 2016

Geisha

Geisha (bahasa Jepang:芸者 "seniman") adalah seniman penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. "Geisha" dilafalkan dalam bahasa Inggris:/ˈgeɪ ʃa/ ("gei-" - "may"). Di Kansai, istilah "geiko" (芸妓) dan geisha pemula "maiko" (舞妓) digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah "maiko" hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan ˈgi ʃa ("gei-" - "key") atau "gadis geisha" umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi. Di Republik Rakyat Tiongkok, kata yang digunakan adalah "yi ji," yang pengucapannya mirip dengan "ji" dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi.

Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha ("Okiya") membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan.

Benda paling berharga bagi seorang geisha adalah kimono, karena kimono yang bagus sangat mahal, dan mereka harus selalu mengenakan busana itu. Warna kimono dipilih sesuai dengan musim : hitam untuk awal tahun dan hari-hari penting, pink untuk musim semi, jingga untuk musim gugur, dan hijau untuk musim dingin. Sanggul geisha ditata seminggu sekali oleh penata rambut profesional yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun. Agar tatanan rambut tidak rusak, geisha tidur dengan leher disangga balok kayu. Jika keluar rumah, geisha mengenakan bakiak tinggi, agar kimononya tidak kotor.


Geisha berbeda dengan pelacur, dan hal ini tampak pada cara mereka berpakaian. Pelacur mengikat obinya di depan, sedangkan obi geisha diikat di belakang. Karena diikat di depan, pelacur dengan mudah akan mengenakan obinya kembali setelah dibuka. Sedangkan geisha, karena obinya diikat di belakang, mereka tidak bisa setiap saat membuka dan mengikatnya  kembali, karena untuk mengikat obi di belakang membutuhkan bantuan juru riasnya.

Seorang geisha tidak boleh menikah, tetapi ia bisa memiliki anak dari Danna, pria yang menjadi kekasih dan menanggung biaya hidupnya. Biaya hidup geisha sangat mahal, dan ia dituntut untuk selalu tampil mewah. Di sebuah toko di Gion, harga sebuh tali untuk mengikat obi (ikat pinggang kimono) mencapai 220 $US, sementara harga tas pelengkap kimono mencapai 500 $US. Namun demikian, penghasilan seorang geisha juga cukup besar. Untuk tampil selama 1 jam, tamu harus membayar 500 $US. Mameka, seorang geisha senior, memiliki penghasilan 8000 $US per bulan. Ia memiliki Danna yang kaya raya, yang membelikannya sebuah apartemen mewah seharga 850.000 $US. Mameka menjadi contoh ideal bagi paramaiko, geisha muda di Gion.



sumber : Geisha - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html
Geisha/Distributor Sabun Kyoto Asli Jepang_ Sejarah, Misteri, dan Rahasia Geisha Jepang.html


Senin, 01 Februari 2016

Analisa Kanji




Atarashii (Baru)





ことしのかんじは新しいです。このかんじは新しいとしにょむことです.私のたんじょうびさんがついつか、私の母は新しいかばんをあげました。Elizabeth でかいました。新しいかばんはいくてきれいです。私は楽しいです。それから私は母とFood Court食べ行きます。


Ini salah satu tugas kuliah aku dari guru orang Jepang di kampus aku namanya Oeyama Sensei.

Hanabi no Matsuri

Hanabi, Festival Kembang Api di Jepang

Kembang api memang identik dengan hari-hari perayaan. Misalnya perayaan tahun baru, perayaan musim panas, dan perayaan lainnya. Dalam merayakan suatu hal, tak lengkap rasanya jika tidak disertai dengan kembang api. Itulah yang menjadi siasat negara Jepang untuk merayakan pesta disertai dengan kembang apai yang megah, dan Hanabi Takailah yang menjadi solusinya. Pada saat-saat musim panas, warga Jpeang sibuk mempersiapkan perayaan pesta kembang api Hanabi Takai. Beribu-ribu hingga puluhan ribu kembang api dipersiapkan guna merayakan pesta musim panas.


Pada saat merayakan Hanabi Takai, warga Jepang khususnya kaum perempuan berbondong-bondong memakai pakaian tradisional Jepang, yakni Yukata atau Kimono musim panas. Selain memakai pakaian-pakaian tradisional, warga Jepang pun berbondong-bondong memakai pakian yang semenarik mungkin utntuk menikmati pesta Hanabi dan tentunya menarik perhatian para turis yang datang.

Festival ini juga diramaikan dengan pedagang-pedagang yang berderet di sepanjang jalan yang diterangi ratusan chuochin (lampion). Para pedagang tersebut menjual berbagai macam mainan, omen (topeng), furin (klintingan), penganan seperti wataame (permen kapas) dan kakigori (es serut) atau makanan semacam takayoki (gurita bakar), yakitori (sate ayam), okonomiyaki (sejenis martabak telur yang diisi sesuka kita), yakitomorokoshi (jagung bakar), dll. Selain itu, festival juga diramaikan dengan berbagai permainan tradisional. Di antaranya, yang paling popular adalah kingyo sukui (menangkap ikan mas). Namun, musim panas tisak terasa lengkap tanpa adanya hanabi taikai (festival kembang api).

Pesta Hanabi Takai ini juga mempunyai ciri khas, yaitu pada saat menyalakan puluhan ribu kembang api, maka yang akan terlihat adalah motif lautan bunga yang berwarna-warni dan motif-motif lainnya yang rasanya sayang untuk dilewatkan. Pesta Hanabi Takai ini memakan waktu sekitar 60-90 menit. Waktu tersebut cukup untuk memanjakan mata dengan motif berwarna-warni dan beraneka ragam serta bunyi-bunyi letusan kembang api di udara yang menambah suasana ramai di pesta Hanabi.

Ø    Sejarah Hanabi

Pada zaman dahulu, pesta Hanabi hanya diperuntukan dan bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu dan kalangan atas. Biasanya kembang api dinyalakan sebagai tanda penutup setelah mengadakan jamuan megah nan mewah. Namun, sekitar abad ke-18 tepatnya di Zaman Edo, pesta Hanabi baru bisa dinikmati semua rakyat di Jepang tanpa kecuali. Itu semua berkat oleh seniman kembang api, yaitu Kagiya bersama asistennya yang bernama Tamaya. Kedua seniman kembang api itu sangat gigih dalam meniti karir di bidang kembang api. Berbagai macam inovasi-inovasi baru berhasil mereka ciptakan dan kembangkan. Semula usaha kembang api hanya dirintis oleh Kagiya pada tahun 1659. Namun setelah usahanya berkembang, Kagiya memperkerjakan Tamaya sebagai asistennya.
Diantara Kagiya dan Tamaya, mereka saling beradu inovasi-inovasi baru dalam menciptakan motif-motif kembang api. Dan alhasil, inovasi Tamaya mampu mengalahkan inovasi dari seniornya yaitu Kagiya. Tak puas dengan inovasi lama, Kagiya mencoba kembali menciptakan kreasi yang baru lagi. Namun, pada saat Kagiya dan Tamaya menunjukan kreasi barunya itu di desa mereka, nasib berkata lain. Kreasi mereka gagal dan menyebabkan rumah-rumah yang ada di desa hangus terbakar oleh kembang api ciptaan Kagiya dan Tamaya, dan mereka pun lalu diusir dari desanya karena telah dianggap sebagai penghancur desa. Segala karir yang telah dirintis oleh Kagiya dan Tamaya mengalami kebangkrutan. Tapi, berkat usaha Kagiya dan Tamaya itulah kini warga Jepang dapat menyaksikan pesta Hanabi yang megah dengan motif-motif yang memukau.

Ø    Hanabi Termegah
Pesta Hanabi memang menyimpan banyak menyimpan berbagai kemegahan dalam menyuguhkan hiburan dalam bentuk kembang api, dan Biasanya pesta Hanabi diadakan di tempat-tempat terbuka. Namun ada beberapa perayaab Hanabi yang diadakan di tempat-tempat tertutup. Dan berikut pesta Hanabi termegah :

            1. Jingu Hanabi
Jingu Hanabi dirayakan di sebuah stadion basball yang bernama satdion Jingu. Dinamakan Jingu Hanabi karena pesta Hanabi ini dirayakan di stadion Jingu yang lokasinya berada di tengah-tengah kota Tokyo.

2. Koshien Hanabi
Sama seperti Jingu Hanabi, Koshien Hanabi diadakan di Stadion koshein. Koshein Hanabi merupakan perayaan pesta Hanabi termegah yang ada di kota Osaka. Stadion ini mampu menampung 100.000 penonton yang datang untuk menyaksikan pesta Hanabi.

3. Edogawa Hanabi Takai
Pesta Hanabi di tempat ini sangatlah sulit untuk mendapatkan kursi guna menyaksikan langsung pesta kembang api secara meriah. Sebelum datanag perayaan Edogawa Hanabi Takai, warga Jepang cepat-cepat memesan kursi yang akan didudukinya di pesta Hanabi nanti. Saat memesan kuris di Stadion, warga Jepang hanya menjaga kursinya dengan ditandai dengan alas atau papan nama. Mereka tak merasa khawatir karena kerukunan antar warga Jepang sangatah erat sehingga mereka yang telah memesan kursi tak merasa khawatir.
Saat perayaan Hanabi tiba, penonton yang telah memadati stadion bersorak-sorai kegirangan saat kembangapi meledak di udara dengan kemegahannya. Tak hanya di dalam stadion, di luar stadion pun tak kalah histerisnya saat melihat kembang api yang meledak. Mereka yang berada di luar stadion merupakan warga Jepang yang menyaksikan pesta Hanabi secara gratis karena tak berada di dalam stadion.

4. Okazaki Fireworks Festival
Pesta Hanabi ini dilakukan setiap tahun di bulan Agustus, Sabtu pertama. Pesta ini diadakan di pinggiran sungai dengan perahu-perahu yang cukup banyak disertai dengan lentera yang semakin menambah ramai pesta Hanabi. Pesta kembang api akan dimulai ketika matahari mulai terbenam.

Dan ini beberapa foto kemegahan pesta kembang api Hanabi :





Sumber: http://inpoasli.blogspot.com/2011/03/hanabi-pesta-kembang-api-termegah-di.html
Google
http://nihongo-benkyoushimasu.blogspot.co.id/p/festival-hanabi.html
             

Kamis, 30 Januari 2014

Hajimemashite

Watashi wa DEA desu。
SERANG ni sunde imasu。
Shumi wa manga o yomu koto desu。
Douzoyoroshiku。